Membongkar Mitos di Balik Bahaya Efek Samping Vaksin Rubella (Vaksin MR) Featured

Ditulis Oleh | Jumat, 03 Agustus 2018 12:48 | Dibaca : 87 Kali
Vaksinasi Vaksinasi Google

Vaksin MR adalah jenis imunisasi yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari dua penyakit sekaligus — campak (Measles) dan campak Jerman (Rubella). Sejatinya, vaksin MR merupakan bagian dari vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella), tapi di Indonesia vaksin Mumps sengaja dipisahkan dari keduanya. Hal ini dilakukan karena penyakit Mumps alias gondongan sudah jarang ditemui di kalangan masyarakat Indonesia.


Sementara itu, campak (baik itu campak “biasa” maupun rubella campak Jerman) masih sangat sering terjadi pada anak-anak. Campak Jerman juga membutuhkan perhatian ekstra apabila penderitanya adalah ibu hamil. Pada wanita yang masih hamil muda, rubella dapat menyebabkan keguguran, kematian bayi dalam kandungan, hingga kelainan bawaan pada bayi.

Maka, vaksin MR perlu diberikan pada anak untuk mencegah kedua penyakit ini, juga untuk mencegah penyebarannya kepada anak-anak lain.

 

Siapa saja yang perlu menerima vaksin MR?

Vaksin MR diberikan pada semua anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun selama masa kampanye vaksinasi MR. Nantinya, tenaga kesehatan akan menyuntikan vaksin pada bagian otot lengan atas atau paha anak.

Bagi anak yang sebelumnya sudah melakukan vaksinasi campak, vaksinasi MR ini tetap perlu diberikan. Fungsinya agar si kecil juga mendapatkan kekebalan terhadap rubella. Selain untuk anak, vaksin ini juga direkomendasikan pada wanita yang ingin merencanakan kehamilan.

 

Apakah vaksinasi MR aman?

Berdasarkan rilis Kementerian Kesehatan RI, vaksin MR yang digunakan di Indonesia sudah mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan izin edar dari Badan POM. Jadi, vaksinasi MR aman dilakukan. Vaksin ini pun nyatanya telah digunakan di lebih dari 141 negara dunia. 

 

Adakah efek samping vaksin rubella dan campak (vaksin MR) yang mungkin terjadi setelahnya?

Umumnya vaksin MR tidak memiliki efek samping yang berarti. Sekalipun ada, efek samping yang ditimbulkan cenderung umum dan ringan, seperti demam, ruam kulit, atau nyeri di bagian kulit bekas suntikan. Ini merupakan reaksi yang normal dan akan menghilang dalam waktu 2-3 hari.

Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, seseorang anak juga bisa mengalami reaksi alergi sebagai efek samping vaksin rubella dan campak. Imunisasi atau vaksinasi adalah suatu tindakan pemberian zat yang berasal dari kuman, baik yang sudah mati ataupun yang dilemahkan.

Diharapkan dengan pemberian vaksin ini, sistem pertahanan tubuh mengenali kuman tersebut, sehingga tubuh bisa mengatasinya apabila suatu saat terinfeksi. Pada beberapa anak yang lebih sensitif, mungkin mereka akan menampakkan reaksi alergi berat dari cairan yang terkandung dalam vaksin tersebut.

Dalam dunia medis, kondisi ini disebut dengan anafilaksis. Namun, jika kondisi ini segera ditangani, anak akan segera membaik. Itu sebabnya, meskipun aman, Anda lebih baik berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter untuk menghindari risiko reaksi alergi sebagai efek samping vaksin rubella dan campak.

 

Tidak benar vaksin MR bisa sebabkan kelumpuhan dan autisme

Tidak benar bahwa kelumpuhan dan/atau autisme bisa muncul sebagai efek samping vaksin rubella-campak (vaksin MR), maupun jenis imunisasi lainnya. Dugaan imunisasi menyebabkan autisme dan kelumpuhan sudah dipatahkan oleh begitu banyak pakar kesehatan dunia. Perlu diluruskan, sampai saat ini belum ada bukti medis nyata yang mampu membuktikan jika imunisasi bisa menyebabkan kedua kondisi tersebut.

Dalam segelintir kasus, munculnya kelumpuhan atau autisme setelah imunisasi hanyalah kebetulan semata. Dan jika benar ini yang terjadi, dokter mampu menemukan penyebab asli penyakit yang diderita pasien lewat berbagai tes laboratorium. Dapat dipastikan bahwa vaksinasi bukanlah salah satu penyebab autisme maupun kelumpuhan pada anak.

 

Tidak semua orang bisa menerima vaksin MR

Untuk mewaspadai terjadinya komplikasi efek samping vaksin rubella-campak (vaksin MR) yang tidak diinginkan, sebaiknya jangan dulu memberikan suntik MR pada kelompok orang-orang berikut ini.

  1. Anak atau orang dewasa yang sedang melakukan radioterapi atau mengonsumsi obat tertentu seperti kortikosteroid dan imunosupresan.
  2. Ibu hamil (namun wanita yang berencana hamil sangat disarankan untuk imunisasi MR).
  3. Leukemia, anemia berat dan kelainan darah lainnya.
  4. Kelainan fungsi ginjal berat.
  5. Setelah transfusi darah.
  6. Riwayat alergi terhadap komponen vaksin (neomicyn).
  7. Selain itu, pemberian vaksin MR harus ditunda jika pasien sedang mengalami demam, batuk-pilek, atau diare (dalam kondisi yang tidak sehat).

 

Ikuti kampanye vaksin MR dari pemerintah Indonesia demi mencegah campak rubella

Untuk menekan angka kejadian campak Jerman di Indonesia, pemerintah saat ini tengah menjalankan program imunisasi vaksin MR sepanjang bulan Agustus hingga September. Terlebih untuk bayi, balita, anak-anak, dan ibu hamil yang paling rentan terinfeksi penyakit ini. Jangan lagi takut membayangkan risiko efek samping rubella dan campak, karena sudah terbukti tidak benar.

Yuk, jangan ragu untuk mendaftarkan anak maupun diri sendiri untuk ikut imunisasi di puskesmas atau klinik kesehatan terdekat. Manfaatnya tetap jauh lebih besar dibandingkan kemungkinan efek samping yang belum tentu akan terjadi. Pemberian vaksin pada dasarnya merupakan salah satu cara untuk melindungi kesehatan diri untuk ke depannya.

 

Sumber : https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/efek-samping-vaksin-rubella-vaksin-mr/ 

Jhon Kobun

 Web Administrator -  Staf Instalasi Farmasi - Dinas Kesehatan Kota Kupang

ifk.dinkes-kotakupang.web.id | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Beri Komentar

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.